Rabu, 12 November 2014

Into the Wild

http://ecx.images-amazon.com/images/I/51jGs2yyXgL.jpg
Apa yang ada dalam benak seorang pemuda cerdas, sarjana berpredikat cum laude, ketika dia meninggalkan kehidupannya, keluarga yang mencintainya, dan mengasingkan diri ke alam liar? Mengapa dia menanggalkan kenyamanan peradaban dan semua atribut duniawi, dengan menyumbangkan semua tabungannya, membakar sisa uang tunai yang dia miliki, serta meninggalkan mobil kesayangannya di tengah hutan begitu saja?
Christopher McCandless menjelma menjadi Alexander si Petualang Super -- menggantungkan hidup pada alam sepenuhnya, mengabaikan risiko apa pun, dan mencoba bertahan di tengah kebekuan dan kesunyian Alaska, The Last Frontier, dataran kejam yang tak kenal belas kasihan. Akankah petualangan ini membawa dia pada makna kehidupan? Ataukah ini hanya kegilaan kompleks seorang pemuda yang nyentrik yang haus sensasi?
Di dalam Into the Wild: Kisah Tragis sang Petualang Muda, Jon Krakauer mengajak kita menguak misteri pengasingan diri Alexander si Petualang Super dan menyelami gairah manusia saat bersinggungan dengan bahaya dan maut.
Buku wajib bagi para petualang alam dan pemilik jiwa yang resah.

Christopher McCandless, 1992

Kutipan dari Mark Twain, “Berhati-hatilah membaca buku kesehatan, kamu bisa mati karena kesalahan cetak.“ Agaknya, inilah yang menjadi kesalahan kecil bodoh jika kita berpikir sebagai manusia yang tak menyangka  bahwa inilah yang menjadi akhir tragis dari kehidupan si petualang super. Alex atau nama aslinya adalah Christopher McCandless. Karena ‘keliru’ membaca buku botani, Alex keracunan kacang manis liar yang dipikirnya tanaman kentang liar. Akibat kelaparan di kejamnya pedalaman Alaska, tempat yang dipilihnya setelah dia memutuskan untuk meninggalkan kehidupan pribadi dan keluarganya. Sepertinya ‘kesalahan membaca buku’ juga yang mempengaruhi keputusan Alex sebelum akhirnya menuju ke alam liar. 
Pemikiran tokoh-tokoh semacam Mark Twain, Leo Tolstoy, Jack London, Anthonny Storr, Henry David Thorreau dan sebagainya adalah pembentuk pribadi McCandless. Secara tidak langsung panutannya adalah mereka yang bertanggung jawab atas petualangan McCandless yang berujung pada kematian. London misalnya, penulis yang bagi McCandless adalah bagai pahlawan, yang sialnya mati bukan sebagai pahlawan namun sebagai pemabuk depresi sementara pemikiran bijaksana Tolstoy agaknya dilupakan McCandless sebagai fiksi yang tak nyata.
Selain alasan bersifat pribadi dengan orang tuanya dan juga pemerintah yang dinilai Alex memuakan. Memang agak logis untuk menelusuri apa saja yang menjadikan seorang jenius semacam Alex mau menyerahkan nyawanya pada kejamnya belantara. Ataukah karena prinsip hidupnya yang  menyukai tantangan dan alam liar adalah tantangan yang dipikirnya bisa dihadapi atau juga karena hanya ingin bersikap entah apatis atau itulah ketenangan karena Alex pernah berkata tentang “Aku tidak ingin tahu jam berapa sekarang. Aku tidak ingin tahu hari apa sekarang atau di mana aku saat ini. Semua itu sama sekali tak berarti.” Namun pada akhirnya Alex mendapat pelajaran dalam kesunyian yang dicari. Seperti kutipannya yang fenomenal: “Kebahagiaan Hanya Akan Nyata Apabila Dibagi.“ 
Tak perlu jadi jenius untuk memahami bahwa kalimat itu adalah penyesalan Alex karena meninggalkan orang-orang tersayang dan juga peradaban. Kisah Alex sendiri sungguh luar biasa. Saya kagum dan bersimpati untuknya. Namun, tulisan Krakauer sediki membuat para pembacanya kecewa. Karena didalam buku ini memiliki cita rasa keterpaksaan, karena memang asal-usul buku ini adalah perpanjangan dari artikel sembilan ribu kata dalam majalah Outside yang mendapat begitu banyak tanggapan beberapa saat setelah kematian McCandless. Komersialisasi akan sebuah kisah walau jelas memberi pesan tertertu kepada pembaca. Bahwa kisah Alex si Petualang Super yang menyedihkan harus bercampur baur dengan petualangan pribadi si penulis dan beberapa orang lain yang harusnya ceritanya berdiri sendiri atau lebih bijaksana bila berganti judul, misal akhir petualang tragis si petualang dan kisah - kisah tragis lainnya. Walau jelas judul “Into The Wild“ sendiri telah mewakili isi kisah, namun fatalnya bahwa pada blurb yang berada di sampul belakang hanya bercerita tentang Alex, namun isi Alex dan bermacam petualangan lainnya.
Bagian terbaik dari sebuah buku adalah nilai yang dipetik, buku ini telah menyampaikan pesan dari sosok Christopher McCandless ini yang inspiratif. Di tengah kekalutannya, dia memilih alam sebagai pelariannya sambil tenggelam bersama pemikiran para penulis besar. Setidaknya walau berakhir tragis pilihan McCandless lebih bisa ditoleransi dibanding pemuda yang mati bunuh diri karena putus asa, membunuh perlahan dirinya dengan narkoba, melakukan tindakan anarkis untuk melawan pemerintah dan orang tua. Masuk hutan liar dan kelaparan lebih baik dibanding anti kemapanan para penganut aliran Punk. Sayang, McCandless harus meninggal di usia begitu muda, seandainya alam menyelamatkannya dan membuatnya kembali pada peradaban mungkin memang tidak ada si Petualang Super. Namun sebuah pelajaran datang di saat yang sangat terlambat. Pelajaran terbaik dari McCandless adalah bahwa seorang manusia hanya boleh membawa apa yang bisa menampung di otak, hati, dan punggungnya. Setidaknya hal tersebut memberitahu bahwa gaya hidup remaja matrealisme dan hedonisme bukan pilihan bijak. Dan juga masuk ke alam liar tanpa persiapan juga tak bisa dibenarkan.
Kutipan kesayangan McCandless dari buku Family Happiness milik Leo Tolstoy; “Aku ingin pergerakkan dinamis, bukan kehidupan yang tenang, bahaya dan kesempatan untuk mengorbankan diri bagi orang yang kucintai. Aku merasakan di dalam diriku tumpukan energi sangat besar tidak menemukan penyaluran di dalam kehidupan kita yang tenang.“

Tidak ada komentar:

Posting Komentar